Tag Archive: Banyumas


11986533_10204951917017490_4129717987818129536_n

Berawal dari sebuah postingan warga di Group Facebook Group Cilongok City mengenai profil nenek Sandinem ini, akhirnya menggerakan warga khususnya warga Kecamatan Cilongok Kab. Banyumas untuk membantu nenek Sandinem ini, yang merupakan warga Desa Pageraji RT 2 RW 9, Kec. Cilongok, Banyumas. Dan aksi penggalangan dana pun sudah dilakukan di dalam group tersebut. Dan ada juga beberapa orang yang sudah melaporkan ke pihak2 terkait seperti desa dan pemda. Untuk warga di luar Cilongok, ataupun diluar Banyumas bisa saling membantu untuk meringankan beban keadaan ekonomi nenek Sandinem ini dengan menyalurkan dana bantuannya seperti yang tertera di gambar atas.

Semoga dengan bantuan ini kita bisa sedikit membantu keadaan ekonomi nenek Sandinem. Walaupun dimasa sulit seperti ini marilah kita membantu sesama yang lebih membutuhkan sebagai amal jariyah kita.

Gcc Baca lebih lanjut

Sambut Ramadan, pengikut Bonokeling jalan kaki puluhan kilometer

Ratusan pengikut Bonokeling yang berasal dari wilayah Banyumas dan Cilacap, berjalan kaki puluhan kilometer menyambut bulan Ramadan. Mereka berjalan kaki menuju makam Bonokeling di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas.

Salah satu pengikut Bonokeling, Warga (45) mengatakan kegiatan ini sebagai bagian menjaga tradisi yang sudah turun temurun dilakukan oleh leluhurnya. Dia sendiri berjalan kaki sekitar 30 kilometer dari Desa Tambakreja, Cilacap Selatan Jawa Tengah. “Kami memulai perjalanan sekitar pukul setengah empat pagi,” katanya, Kamis (4/7).

Ia berjalan kaki bersama 250 warga Desa Tambakreja lainnya. Selain dari Desa Tambakreja, juga bergabung ratusan pengikut lainnya dari Desa Adiraja, Kalikudi Kecamatan Adipala dan beberapa desa di pesisir Cilacap. Dalam perjalan itu, mereka membawa pikulan berisi hasil bumi yang akan dimasak bersama untuk acara selamatan yang digelar di area pemakaman Bonokeling. Baca lebih lanjut

BANYUMAS – Seorang bocah berusia 12 tahun di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, harus bertahan hidup sambil menghidupi tiga adiknya. Empat bocah itu ditinggal ayahnya bekerja ke luar Jawa, sementara sang ibu meninggal akibat tertimpa longsor.

Spoilerfor Bocah Tasripin:

Tak mudah untuk menjangkau tempat tinggal empat bocah yakni Tasripin (12) bersama tiga adiknya, Riyanti (9), Dandi (7) dan Daryo (5). Setelah menempuh jalan menanjak dan bebatuan terjal, terlihat sebuah rumah terpencil di atas bukit di Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok.

Kondisi rumah itu cenderung lembab sehingga tidak sehat bagi pertumbuhan anak-anak. Kawasan itu juga sering diselimuti kabut menjelang sore. Jarak dari pusat kota cukup jauh yakni sekira 30 kilometer.

Tasripin yang mestinya duduk di bangkus kelas VI SD, harus putus sekolah dan menjadi kepala keluarga sekaligus mengurus tiga adiknya. Empat anak itu ditinggal ayah, Narsun, dan kakaknya sejak enam bulan lalu untuk bekerja di kebun kelapa sawit di Kalimantan. Sementara ibunya, Satinah, meninggal dua tahun lalu akibat tertimpa tanah longsor.

Kini, Tasripin harus menjadi tumpuan hidup tiga adiknya. Dia harus mengambil alih tugas ayah dan ibu, mulai dari urusan mencuci pakaian, piring, dan mengurus keperluan rumah tangga lainnya. Baca lebih lanjut

 

BINTANG FILM; Salah satu adegan saat syuting Bintang Film yang mengambil lokasi di komplek Situ Elok Desa Pernasidi , Kecamatan Cilongok, Banyumas (wien/BNC)

BANYUMAS- Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah tampaknya menarik sejumlah produser film untuk menggarap film di wilayah ini. Kali ini Film Televisi (FTV) bernuansa Banyumas  kembali diproduksi oleh Rumah Produksi (Production House) Citrasinema. FTV berjudul Bintang Film yang mengambil lokasi syuting di Jakarta, Cilacap dan Cilongok Banyumas digarap oleh rumah produksi Dedy  Mizwar untuk kali kedua.

FTV sebelumnya berjudul Undangan Kuning yang juga mengambil lokasi di Banyumas  berhasil menduduki rating teratas. Keberhasilan film bernuansa Banyumas ini ternyata membuat sang produser Citrasinema , Dedy Mizwar ingin mengulangnya. “Kali ini kami serius menggarap film ini agar kembali meledak dan lebih baik dari sebelumnya,” ujar Kamayus, yang dipercaya menjadi Astrada dalam film ini.

Sementara Karsono Hadi , Sutradara dalam film ini mengatakan, kali ini seleksi pemain juga sangat ketat. Ratusan lebih peserta casting yang ikut selekasi terpaksa gagal. ” Kami memang tidak main main dalam meng casting merreka. Film ini harus digarap maksimal dengan memilih pemain yang juga bukan sekedar bisa main” ujar Kasrsono Hadi yang akrab dipanggil Pak De. Baca lebih lanjut

Beberapa waktu yang lalu saya menonton sebuah berita yang membuat miris yaitu pemberitaan mengenai seorang nenek bernama Minah (55th) warga desa Darmakradenan kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas yang kedapatan mencuri 3 biji kakao di sebuah perkebunan kakao di desanya yang dikelola oleh PT Rumpun Sari Antan (RSA), yang kemudian perkaranya dibawa ke meja hijau dan akhirnya nenek Minah dijatuhi hukuman satu bulan dengan masa percobaan tiga bulan tanpa harus menjalani kurungan tahanan. Walaupun akhirnya hukuman itu tidak jadi dijalani oleh nenek tersebut, tapi rasanya hal semacam ini membuat kita yang melihat dan mendengar berita tersebut menjadi ikut miris dan prihatin. Bukan hanya prihatin terhadap kondisi nenek Minah yang harus menjalani persidangan gara-gara mencuri 3 biji kakao saja tapi juga prihatin terhadap hukum di negeri kita. Kita lihat banyak koruptor yang mencuri uang negara milyaran rupiah tapi banyak yang lolos dan bebas. Benar-benar memprihatinkan.
Pemberitaan mengenai kasus nenek Minah pun banyak diberitakan dibeberapa media khususnya televisi akhir2 ini salah satunya TV One yang benar-benar menyoroti kasus ini sampai detail,sampai nenek Minahpun diundang ke TV One untuk diwawancara seputar kasusnya. Dari pihak PT RSA yang diwakili oleh administratornya Bapak Sumarno pun di wawancarai via telepon. Bapak Sumarno menyebutkan kalau sebenarnya yang dicuri nenek Minah itu bukan hanya 3 biji kakao saja tapi 3 kilo, tapi saat ditanyakan harga 3 kilo kakao itu berapa, ternyata harganya hanya sekitar Rp 30.000. Dengan luas perkebunan 200 hektare rasanya 3 kilo biji kakao yang seharga Rp 30.000 itu tidak akan membuat bangkrut PT RSA. Tapi Bapak Sumarno menyebutkan kalau sebenarnya tujuan memperkarakan kasus nenek Minah ini bukan semata untuk mempenjarakannya saja tapi kuga untuk membuat efek jera terhadap para pencuri-pencuri kakao yang marak diperkebunan tersebut. Tapi pertanyaannya sekarang adalah, kenapa yang ditangkap hanya nenek Minah saja yang nota bene sudah uzur usianya?kenapa tidak menangkap pencuri-pencuri lain yang mungkin lebih muda dan sehat dari nenek Minah. Dan ini yang membuat salah satu pembawa acara di TV One menyeletuk …Jangan mencuri diumur 55 tahun, karena nanti bisa dipenjara…”,terdengar lucu memang mungkin celetukan itu hanya untuk menyindir, bukan hanya menyindir PT RSA saja tapi juga menyindir aparat aparat hukum kita yang beraninya hanya terhadap orang lemah saja. Semoga ini menjadi pelajaran buat instansi hukum dinegeri kita kalau hukum itu harusnya tidak pandang bulu.

SendeCala BandSendeCaLa itu lah nama band kami,saat ini kami beranggotakan 4 orang yaitu Buddy(Bass,Vocal),Toyo(Gitar),Tito(Gitar,Keyboard)dan Uji(Drum).Kami hanyalah segelintir pemimpi yang berusaha berkarya walau hanya sebatas mimpi,mimpi menjadi band terkenal dan karya karyanya bisa diterima masyarakat. Pasti hal semacam itu pula yang dirasakan banyak anak2 muda diseluruh jagat dunia ini yang hoby bermusik dan memiliki band. “Menjadi terkenal” itulah tujuannya. Mungkin kalau bicara berkarya,kami band kelas kere yang hanya bermodal tekad dan mimpi ini pun tak kalah dengan band2 terkenal di Indonesia macam Peterpan,Ungu,Dmassiv atau yang lainnya. Karya kitapun sebenarnya bisa terkenal seperti karya karya mereka,tapi hanya satu kendala kita yaitu media. Ya..media,kendala itu pula pasti yang dirasakan oleh banyak anak2 muda yang berhasrat di dunia musik ini.
Tapi kini rasanya kalau kita mengandalkan luck atau keberuntungan sedangkan skill dan tampang kita pas2an itu semua hanya akan jadi mimpi.Bandito
Tapi tenang,sekarang kita sudah ada dijaman serba mudah hanya dengan sebuah Handphone pun kita bisa mendengarkan karya kita ke seluruh masyarakat. Saya pernah membaca sebuah tulisan di kaos yang bertuliskan “Record Your Own Band Songs” jadi sebenarnya kita bisa mengawalinya lewat usaha kita sendiri yaitu merekam sendiri karya kita walau tanpa label,atau dengan kata lain “musik indie label”.
Ingat kasus lagu Gaby yang sempat menggemparkan dunia musik Indonesia,dengan hanya sebuah rekaman HP saja dia bisa menjadi fenomena,dan kita pun harus yakin kalau kitapun pasti bisa..jadi mulai sekarang berkarya dan rekam lagu2 bandmu walau hanya menggunakan HP atau sejenisnya.Walau tak menjamin kepopuleran tapi yang pasti karya kita bisa dinikmati oleh banyak orang dan semoga menjadi jalan untuk meraih kesuksesan itu…

%d blogger menyukai ini: